Rabu, 22 Januari 2014

masuknya parica (shizolobium amazonicum) ke Indonesia



CATATAN MASUKNYA TANAMAN PARICA (Schizolobium Amazonicum) KE INDONESIA/Kalimantan Timur Khususnya
Pada akhir tahun 1995/awal tahun 1996, Technical Advisor perusahaan di mana kami bekerja – yang bernama Toyokazu Kawai, berkebangsaan Jepang – pergi ke Amerika Selatan ( Chili/Peru ) dalam rangka survey hutan, sekembalinya ke Indonesia, beliau membawa oleh-oleh beberapa jenis biji yang berasal dari Negara tersebut. Di antara beberapa jenis biji tersebut satu diantaranya adalah jenis Parica  (Schizolobium Amazonicum ), yang mana biji tersebut ditanam pada tahun 1996 / 1997 di beberapa lokasi dimana perusahaan kami beroperasi, yaitu di daerah sekitar Silat/Sejiram/Semitau, Kab. Kapuas Hulu, Prov. Kalimantan Barat ; di daerah Sungai Meluk, Kec. Tabang, Kab. Kutai Karta Negara, Prov. Kalimantan Timur (Koordinat 0⁰38’09”LU; 116⁰11’03”BT); di daerah Sungai Ibrahim (Anak Sungai Boh), Kecamatan Long Bagun, Kab. Kutai Barat, Prov. Kalimantan Timur (Koordinat  1⁰04’00” LU; 115⁰04’32” BT), yang mana tanaman tersebut menunjukkan hasil yang baik, dalam arti persen hidup tinggi & pertumbuhan cepat.
Pada tahun 2000/2001, dalam rangka penanaman kembali hutan bekas terbakar, perusahaan kami mencari tanaman parica (Schizolobium Amazonicum) tersebut sebagai salah satu jenis/species alternative yang akan dikembangkan, pertanyaan mendasar yang muncul adalah Dimana harus mencari tanaman tersebut????, upaya pertama adalah mencari relasi/kawan dari Technical Advisor kami seperti tersebut di atas, kami berhasil bertemu dengannya, yang mana orang tersebut adalah mantan Direktur sebuah perusahaan yang beroperasi di Brazil dan mengembangkan tanaman parica tsb untuk merahabilitasi hutannya, tetapi berdasarkan informasi beliau selama beliau berada d Brazil, beliau juga mengalami kesulitan untuk pengadaan biji parica tsb. Upaya ini berarti Gagal.
Upaya kedua kami tempuh dengan cara mencoba mengembangkan tanaman parica (Schizolobium Amazonicum) tersebut, dengan cara kultur jaringan, beberapa kali kami berkonsultasi dengan expert di bidang kultur jaringan di salah satu perguruan tinggi di Samarinda, Kal-tim. Bahwa untuk pengembangan tanaman melalui cara Kultur jaringan, ada beberapa kesulitan yang akhirnya tidak bisa berjalan, beberapa kesulitan teb adalah 1.Perlu biaya besar 2. Perlu bibit tanaman yang banyak sebagai bahan uji coba, sementara itu, keberadaan/jumlah bibit yang bisa kami sediakan yang berupa bibit cangkokan sangat terbatas 3. Waktu yang lama (±5 tahun, dengan asumsi bahwa uji coba pengembangan tanaman ini dari tingkat laboratorium sampai dengan penanaman di lapangan tingkat keberhasilan tinggi);. Upaya ini juga Gagal.
Upaya Ketiga – karena saya secara pribadi sangat  tertantang untuk mendapatkan biji tanaman tersebut - kami tempuh adalah Browsing di Internet & berkomunikasi dengan expert ataupun dengan link yang terkait dengan tanaman tersebut, cilaka nya sebagian besar tulisan yang ada adalah berbahasa Portugis/Spanyol… Lha bahasa inggris saja kedodoran apalagi bahasa Portugis/Spanyol… nggak tahu sama sekali. Setelah ±1,5 bulan ( minimal 5 jam setiap malam ) kami browsing + komunikasi via email dengan link/pihak2 yg terkait dengan tanaman parica tsb – yang menghabiskan biaya pribadi untuk rekening tilpun lumayan besar - pada akhirnya kami bisa negosiasi dengan sebuah Lembaga/Institusi di Bolivia ( asal tanaman tepatnya berasal dari “daerah” Chocabamba ) yang sanggup dan bisa mengirim barang tersebut ke kami di Indonesia dengan harga yang telah disepakati dan bayar di muka, yang artinya bayar dulu baru kirim barangnya. Seingat kami total jumlah biji yang kami beli adalah sejumlah 150kg.  
Dalam perkembangan selanjutnya tanaman Schizlobium Amazonicum (Parica / Serebo) tersebut selain ditanam dalam skala relative luas di daerah S.Meluk seperti tersebut di atas pada tahun 2001/2002, juga untuk percobaan penanaman oleh Universitas Mulawarman dalam rangka reklamasi areal ex pertambangan ( sudah di unggah ke internet oleh para expert /dosen Fak.Kehutanan Universitas Mulawarman, Samarinda, Kal-tim); Untuk wilayah sekitar Samarinda (Loa Buah, Sei Kunjang) tanaman tersebut ditanam cukup luas pada koordinat 0⁰34’14” LU; 117⁰04’43” BT, ditanam pada bulan Mei 2003. Bahwa beberapa Staf perusahaan berasal dari Pulau Jawa, maka tidak menutup kemungkinan tanaman tersebut secara pribadi oleh staf perusahaan ditanam dalam skala kecil (beberapa tanaman), termasuk kami menanam di daerah Boja, Kab.Kendal, Jawa Tengah.
Pada pertengahan tahun 2009, seorang mahasiswa Doktoral Universitas Mulawarman Samarinda bernama Ismail, mengadakan penelitian terhadap tanaman Schizolobium Amazonicum yang ditanam di sekitar Samarinda (Loa BUah, Sei Kunjang) seperti disebut di atas, dalam rangka pembuatan thesis doctor nya dibawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Maman Sutisna, M.Sc.

Secara fisik saya belum pernah memeriksa di lapangan
Gambar berikut adalah salah satu tanaman yang berada di sekitar Samarinda (Loa Buah, Sei Kunjang), yang kami ambil gambar nya pada akhir 2008, sebagai perbandingan kami dampingkan dengan sepeda motor untuk mengetahui diameter tanaman yang sudah berumur ± 5 tahun 7 bulan, Diameter rata-rata 35 cm – 40 cm. ( Sorry  ya…. Saya rada “Narcis” . .  . he he he he)

Salam,
D. Jaka Jalidu”Santosa                      djksant@yahoo.com  



Lokasi penyebaran tanaman Schizolobium Amazonicum (Parica) di wilayah Kalimantan Timur

5 komentar:

  1. Di kabupaten katingan provinsi kalimantan tengah, kita ada nanam pohon ini dengan jumlah kurang lebih 100 btg dgn usia sekarang 15 tahunan dan sudah menghadilkan biji dan terus di sebarkan kependuduk dusekitarnya. Dan dijual lima ribuh rupiah satu biji oleh penduduk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa kontak saya di 081350825950. Saya perlu bibitnya pak.

      Hapus
    2. Pak yohanes bisa saya minta nomor HP Bapak krna saya sangat tertarik sekali dengan species baru ditempat kita ini Terimakasih.

      Hapus
  2. Pg pak yohanes bs sy dapat no hp bapak krn sy butuh bibit tersebut

    BalasHapus
  3. Iya memang mahal yg parica, banyak petani ketipu dengan yg jenia parahyba. Biji sekilas sama, tapi agak beda pohonnya

    BalasHapus